Hi Sobat Albi Karanganyar...
Ada dua kelompok orang dalam satu waktu memutuskan membangun desa di pinggiran sungai yang berbeda. Zaman dulu, sungai identic dengan berkembangnya sebuah peradaban manusia karena dari sanalah salah satu sumber kehidupan didapatkan, yaitu air. Kita katakan kelompok orang yang satu adalah warga desa A yang tinggal di pinggiran sungai yang berlimpah airnya, stabil, tidak pernah kebanjiran atau kekeringan. Sepanjang tahun airnya selalu bersahabat, warga memanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan nyaris tidak pernah terjadi krisis air.
Sebaliknya kelompok kedua, kita sebut saja warga desa B, menempati pinggiran sungai yang labil. Sungai itu akan meluap ketika musim penghujan dan tak jarang luapannya menggenangi desa, merusak ladang dan pemukiman. Ketika musim kemarau sungai itu kering kerontang, bahkan tak ada setetes air pun yang bisa didapatkan di sana.
Setelah 10 tahun tinggal di masing-masing pinggiran sungai tersebut, kehidupan warga desa A tidak banyak berubah, sungai masih bersahabat untuk memenuhi kebutuhan harian meskipun sudah tak sejernih dulu. Sementara kehidupan warga desa B banyak berubah. Mereka dipaksa keadaan untuk berpikir, berinovasi dan bekerja keras sehingga mereka mampu membuat bendungan, sistem pengairan, lumbung pangan dan menemukan berbagai teknologi tepat guna lainnya.
Kesulitan yang dialami orang-orang warga desa B membuat mereka berpikir dan bekerja keras sehingga mampu bertahan hidup dan memiliki kesejahteraan hidup yang lebih sustainable atau berkelanjutan daripada warga desa A.
Oleh karena itu, kita jangan sampai terlena dengan berbagai macam kemudahan dan fasilitas yang kita dapatkan saat ini. Jika tidak hati-hati itu yang akan membuat kita malas untuk berpikir dan bekerja keras sehingga kita tidak akan mencapai apa. Bijaklah dalam menyikapi setiap keadaan, baik itu kemudahan atau kesulitan.
Arif Hidayat, M.Pd.